Tiaraaa…….

Sebuah suara memanggil dibelakangku, sekelebat bayangan berlari kearahku, koridor menuju ruangan kerjaku sedikit remang, pencahayaan memang kurang, aku tak bisa melihat orang itu dengan jelas.

Tiaraaa… kau kah itu?? Sesaat kemudian perlahan aku bisa melihat wajahnya, wajah orang yang selama ini aku rindukan, sangat aku dambakan kehadirannya.. papa….

Papa.. desisku…

“papa” ucapku sedikit keras…

“tiara…” teriaknya sambil melihatku nanar, Nampak garis-garis halus diwajahnya, dia sudah semakin tua, sudah hampir 6 tahun tidak berjumpa.

Sejenak hening diantara kami, aku tak kuasa mengucapkan sepatah katapun namun kuhanya ulurkan tangan mencium tangannya sambil menundukkan kepala,

“gimana kabarmu nak?” tanyanya parau, aku berusaha menekan gejolak emosi ku, aku berusaha menahan semua kerinduan ini, seandainya saja semua tidak harus seperti ini.

Aku berusaha bersikap setenang mungkin. “Alhamdulillah baik pa” jawabku terputus putus.

“apa kau sekarang kerja disini?” papa melihatku dengan seragam putih yang kukenakkan, “ iya pa, sudah 2 tahun aku kerja disini, sekarang sedang shift malam, aku tak mampu berucap lagi.

“yaaa Rabbi… Alhamdulillah… papa senang melihatmu seperti ini, bagaimana kabar yang lain? Mama? Adek-adekmu?” tanyanya spontan.

“ Alhamdulillah semua baik2 saja pa… mama sekarang sedang kuliah lagi, adek- adek smua baik”. “papa sedang apa disini?” tanyaku

“hmmm papa sedang nemenin teman berobat ke UGD, dia sakit jantung” jawabnya…

“oohh… hmmmm gimana sekarang keadaannya pa?” tanyaku lagi

“dia baik-baik saja” semua sudah teratasi…jawabnya lagi”

“ooooohhh… .

Ya Allah knp aku jd canggung gini sama papaku sendiri… ku hela napas panjang sambil berfikir yang ga jelas memikirkan apa… otakku kosong..

“ hmmm pa… tiara kerja dulu yaaa.. sudah hampir jam 9 malem, mau operan sama temen yang jaga sore…” kataku tanpa pikir panjang.

“ohhh.. iya iyaa.. jawabnya… hati-hati ya nak..

Kucium tangannya… “nak” kata-kata itu bagaikan curahan air es yang mendinginkan perasaanku yang sedang berkecamuk sekarang…

“nak” papaaaaaaaaaaaaa…. Teriakku dalam hati… “ aku rindu suara gitar dan nyanyianmu di kala sore menjelang, aku rindu cerita banyolanmu dikala listrik padam buat menenangkan kami supaya tidak takut… papa..

Sepanjang koridor kulangkahkan kakiku dengan cepat…. Aku berusaha menenangkan gemuruh hatiku… aku ingin prima menghadapi pasienku malam mini.

6 tahun yang lalu, entah apa sebenarnya yang terjadi, ketika itu aku sedang kuliah D3 perawat, aku berada di asrama, adekku datang dengan muka lebam. Ia menyampaikan berita yang sangat negejutkanku, Papa menikah lagi, kenyataan ini membuat kami semua terluka, mama tak mampu menahan emosinya, sehingga terjadi pertengkaran sengit diantara mereka, ditengah pertengkaran itu, papa memukul keras mama sampai pingsan, adikku tak kuasa menahan amarahnya hingga ia mengacungkan tinjunya ke muka papa.. terjadilah perkelahian diantara mereka. Sampai akhirnya keluarga besar mama melaporkan hal ini ke pihak berwajib. Papa dilarang keras kembali kerumah.

Sejak saat itu kami putus hubungan dengan papa, ia seperti ditelan bumi, dari keluarganya kami dengar ia pindah ke daerah, semua seperti mimpi, kelarga yang aku kira sangat harmonis, tiada permasalahn pelik yang tak mampu dipecahkan, semua pasti ada solusi. Melihat kemesraan mama dan papa, aku selalu merasa menjadi anak yang sangat beruntung, hidup didalam keluarga ini… namun inilah yang gterjadi, aku tak pernah berani menanyakan kepada mama apa sebenarnya yang terjadi diantara mereka.

Sepanjang jalan masuk keruangan rawat tempat aku bekerja, pikiranku tak menentu, semua cerita masa lalu sekonyong-konyong menari-nari dihadapanku.

“Hey dah datang ni yang juga malem” seketika aku tersentak dengan suara rina sahabatku..

“owhhh ehh iyaaa.. hehe.. dah mau pulang yaa?” tanyaku… “ gimana pasien kita? Ada brp? Amankah?” pertanyaanku memberondong..

“haduh haduhhh… dah ga sabaran pengen bobo yaaa… hihihi “ rina mencibir..

Semua ada 6 orang.. relative stabil kok… Cuma nanti tolong di terusin transfusi ibu ida kmr 5 yaaa, besok rencana dia mau kemo, ..

“hmmm ibu ida? Yang ca mammae itu?” tanyaku..

“iyaaaa… sekarang kan seri ke 4.. kondisinya ga terlalu fit, hb nya tadi pagi 8, dr erna maunya sampe 10 baru di kemo… blangko transfuse ada di statusnya, darah berikutnya sudah ada di PMI, nanti tinggal ditelpon aja, biar mereka yang nganter..” ucap rina sambil merapikan status..

“tiara.. nanti ada pasien baru mau masuk.. dengan chest pain, kiriman dokter zul, sekarang pasien ada si UGD, tadi orang UGD sudah nelpon kesini, dia booking kamar 6, pembayaran pake askes Gold” seketika mbak nuri seniorku berucap.

‘hmmmm berarti semua ada 7 ya mbak,, wahh penuh neh… horeee ladang amalku banyaakkkk….” Selorohku sambil berjalan masuk keruang perawat…

“huh dasar… bilang aja kamu tu bt banyak pasien gini … halah bilang ladang amal segala” ucap rina…

“hahaha…. ‘ tawaku dari dalam ruangan ganti perawat…

Selesai ganti seragam jaga malam, aku segera memeriksa buku laporan sambil menanyakan hal-hal penting yang perlu diperhatikan,

“yuukkk ke pasien “ ajak mbak nuri..

“nggak nunggu mbak titin mbak? Dia masih dijalan bentar lagi nyampe…” mbak titin temen jaga malamku mala mini, dia seniorku juga

“ hmmm ga usah.. tadi barusan dia nelpon, ada keluarganya yang sakit diruang UGD, jadi dia agak telat katanya… “

“ooohhh gitu.. ya udah deh… ayukk mau kemana nehh?”… tanyaku kemudian

“ kita ke bu ida aja yaaa.. soalnya mau chek transfusinya, takut ada bekuan darah…” ajak mbak nuri

Setelah selesai operan, mabk nuri dan rina pulang… aku langsung membagi obat oral untuk pagi, obat injeksi untuk malam, tidak lama kemudian pasien baru yang tadi dibilang oleh mbak nurio tiba…

Dan betapa terkejutnya aku ternyata pasien yang dating itu diantar oleh papaku…

“papa..?”.. ini temen papa yang sakit?? Tanyaku…

Sekilas ku ihat keterkejutan yang sangat diwajah papaku, dia Nampak salah tingkah… airmukanya berubah tak menentu…

“ehhh hmmm ehhhhhmmmmm iyaaaa… ini yang papa certain tadi”…

Kulihat pasien itu seusia mamaku, hmm mungkin sedikit lebih muda, seorang wanita dengan wajah tanpa ekspresi, ia melihatku dan melihat papaku Nampak tak mengerti.

Aku terkesiap sesaat.. “mungkinkah ini … hmmmm hmm ohhh dia istri papaku?” Aku hanya membathin dalam hati,, seketika tubuhku bergetar, .. namun aku berusaha menguasa diri..

“silahkan masuk ke intermediate suster, tempatnya sudah disiapkan, ikuti saya … “ aku bicara dengan perawat yang mengantar pasien itu. Setelah pasien berada ditempat tidur, dan operanku dengan perawat UGD selesai, aku mulai mengurus pasien ini, namanya lilies, usia 45 tahun, pekerjaan wiraswasta. Penasaran aku lihat yang bertanggungjawab atas pasien ini, ternyata kecurigaanku benar, dia adalah mama tiriku, disitu ada tanda tangan papaku dengan status suami dari pasien ini.

Yaa tuhaaaannn kenapa ini terjadi seperti dalam sebuah drama…

Terbersit kebencianku yang selama ini kupendam, dia.. wanita itu telah merenggut kebahagiaan kami, bertahun-tahun hidup dalam kebahagiaan, keluarga yang lengkap dan semua yang kurasakan sebagai seorang anak sirna sudah karena kehadiran wanita ini.

Kulihat status UGD, riwayat masuk kaarena diare berat, keluhan nyeri dada, lemas, pusing, badan terasa ngilu, tekanan darah 100/60 mmHg, denyut jantung tidak teratur.. hasil lab kadar elektrolit turun drastis. Tak lama kemudian dokter jaga datang, dia memindahkan Ny. Lilies ke ruang intermediate, mengingat kondisinya belum stabil. Tak lama setelah dipindahkan, Ny. Lilies tiba-tiba terlihat seperti orang kejang .. papaku berteriak… suster!!!

“Suster” …. Suster bathinku… dia tak berani memanggilku “nak” didepan istrinya ini..

Aku berlari menghampiri Ny. Lilies, khas sekali ini adalah fibrilasi ventrikel, kulihat EKGnya juga begitu, dokter jaga segera memintaku menyiapkan DC shock, beri 100 joule aja dulu sus.. ucapnya, segera ku siapkan pasien, merekam iramanya dan langsung memberinya 100 joule, setelah itu aku melihat reaksi dari pemberian shock tadi, terlihat iramanya mulai stabil.

Oksigennya ya sus, beri yang low flow aja, ucap dokter jaga tadi

Iya dok, … setelah ini apakah perlu disiapkan anti aritmia drip dok? Tanya ku

Bolehlah… nanti kita lihat lagi kondisinya, jalur infus yang kiri beri aja suplemen kalium drip sus, kemungkiknan karena elektrolitnya yang rendah membuat dia jadi VF.

Baik dok….. jawabku

2 tahun bekerja dirumah sakit ini, cukup membuatku percaya diri menghadapi kasus-kasus jantung, karena ruangan tempatku bekerja adalah ruang VIP yang didalamnya merangkap ruang intermediate jantung. Namun ini, saat ini, sekarang ini…. kasusnya beda…

Dia ibu tiriku, wanita jahat!! Alam bawah sadarku telah membuat persepsi seperti ini. dikala aku mengecap kehidupan dalam keluarga yang lengkap, dimana ada seorang ayah tempatku mengadu dan bercerita, dan seorang ibu yang dengan senyumnya selalu ada mendekapku dalam kedamaian. Semua berubah hanya karena wanita ini.

Aku bisa saja membunuhnya, mengakhiri hidupnya, membuatnya sengsara…

Aku ingin membuat wanita itu menghilang …. Agar papa bisa kembali kepada kami, agar kami bisa kembali lagi seperti dulu. Aku masih tidak mengerti mengapa semua ini terjadi. Aku tidak pernah berani menanyakan pada mama apa sebenarnya penyebab semua ini.

Tiba-tiba alarm bed side monitor berbunyi lagi.. aku berlari melihat kondisi Ny. Lilies… ternyata ia kena serang ulang… segera kuberi ia shock 150 joule .. sesuai intruksi dokter jaga… Tuhann.. andaikan memang semua ini kehendakMU…. Aku akan menghilangkan semua niat buruk, pikiran buruk terhadap wanita ini…. aku hanya ingin menolongnya agar bisa melanjutkan hidup ini tanpa kurang suatu apa.

Tuhan selamatkanlah dia… dalam hati aku berdoa sambil kubenahi pasien ini.

Ternyata pemberian shock yang kedua kali ini tidak berhasil, ny.lilies masih VF… kulanjutkan dengan RJP…

Kulihat papaku mondar mandir diluar ruangan, terlihat sangat cemas.. sesekali ia melongok kedalam melihat kondisi istrinya,

Keringatku bercucuran, dengan irama yang senada, aku dan dokter jaga menangani pasien ini.. dilanjutkan dengan shock yang ke 3..

Setelah shock ke 3 Ny. Lilies terlihat stabil….

“dok, apa perlu kita telp dr. Zul, karena dari UGD, pasien ini didaftarkan sebagai pasien dr. Zul…

“iyaa… tadi saya sudah hubungi, tapi teleponnya ga diangkat sus… jadi saya telpon aja chief residen…”

“suster tiara.. pekarya malemku mbak titis memanggil..

“iya mbak… jawabku dari ruang intermediate, ruangan intermediate ini bersebelahan dengan counter perawat.

“ibu kamar 5. Muntah muntah sus… dia ga bisa tidur… kata mbak titis.

“iya mbak, sebentar saya kesana” ucapku..

“emang jaga sendirian ya sus?” Tanya dokter jaga..

“nggak dok, satunya lagi sedang ngurus keluarganya MRS” jawabku…

“Owhh… bagusnya dia ditelepon, bilang ada pasien gawat, … mana bisa suster sendiri disini, pasien banyak kan?”

Aku hanya tersenyum… he eh.. iya dok.. jawabku

Setelah ny. Lilies sedikit tenang, aku langsung melihat ibu ida… pasien terlihat pucat, nadi cepat, nafas berat, tekanan darah 110/70“ banyak muntahnya bu?” tanyaku…

“nggak sus, memang saya ga makan apa-apa dari pagi tadi, ga nafsu” jawab ibu ida..

“hmmm kalo di baringkan ga enak yaa? Tanyaku

“tambah mual sus”

Ada minyak kayu putih bu?… nanti saya bantu oleskan…

Ada sus.. itu dalam laci…

Setelah selesai mengoleskan minyak kayu putih, aku memberikan kompres buli-buli hangat pada perut ibu ida….

“nahh mudah-mudahan setelah diberi ini akan sedikit enakan ya bu”… ucapku

“terimakasih suster”

Setiba di counter perawat, aku menelpon dr. erna selaku dokter yang merawat bu ida, “ dok, tadi bu ida mengeluh mual, muntah, tidak bisa tidur… apakah obat anti muntah yang biasa dia dapat bisa diberikan kapan saja ia butuh dok?”

“iya suster teruskan saja, memang kondisinya untuk kemo ke 4 ini sangat tidak bagus… saya mau recoveriin dulu” jawab dr. erna

Owh… baiklah dok,.. sementara saya kasih kompres dulu… kalo memang ga berhasil, suntikannya baru saya akan kasih. Ucapku lagi…

Sejenak kemudian mbak titin datang..

“aduh maaf ya tiara… urusannya agak panjang di UGD tu… kamarnya blom ada, tadi saya cariin kamar dulu buat keluargaku itu… maaf bener yaaa…” ucap mbak titin.

“ gapapa mbak, sementara baru dua yang bikin rame… hehehe” jawabku berseloroh…

“udah nyuntik malem?”

“ntar mbak, jam 24, jam 03 ma jam 05”

“wadoohhh.. aku bener-bener ga tidur tadi siang.. ga ada tabungan neh…. “ ucap mbak titin.

“semngat mbak!! Pasti ga ngantuk neh… soalnya ada yg bikin rame tuh… “ sambil melirik ke kmr intermediate…

“emang kenapa?”… Tanya mbak titin penasaran…

“udah 3 kali mbak DC… hehehe… + RJP”

“gubraaakkk…. Hadoohh “ Mbak titin kaget

“bentar mbak yaa… aku mau masukkin infus ini dulu ke pasien itu” ucapku sambil masuk ke ruang intermediate..

Kulihat ny. Lilies sedang tertidur, nadinya masih tidak teratur, tachicardi aritmia. Tekanan darah 110/70 mmHg. Saturasi 98 %. Aku memeriksa jalannya infus, sambil melihat urine output. Hmmm tidak ada urine yang keluar dari sejak tadi sore…batinku

Tiba-tiba alarm berbunyi lagi… VF lagi, mbak titin langsung masuk ke intermediattte. Kami lakukan prosedur seperti biasa.

Jam didinding menunjukkan jam 5 subuh..

Tak terasa telah 8 kali kami berikan shock pada ny. Lilies. Terakhir diberikan jam 3. Sekarang kondisi relatif stabil. Seperti biasa kami melakukan aktifitas pagi. Memandikan pasien, mengganti alas tempat tidur, mengukur vital sign dan memebri obat pagi. Alhamdulillah malam ini berlalu penuh dengan perjuangan…

Tidak ada komunikasi atara papa dan aku semalam, ia sibuk dengan keluarganya yang lain, kemungkinan itu keluarga istrinya. Setelah operan dengan yang jaga pagi, aku pulang dengan membayangkan tempat tidur empuk dirumah yang telah siap sedia menantiku.

Keesokan harinya, ketika jaga sore aku menerima surat dari papa yang dititipkannya melalui temanku diruangan. Ia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara mama dan papa.

Sekian lama papa membangun rumah tangga bersama mama, dulu papa dijodohkan dengan mama, papa menolak, karena ia telah memberikan cintra sejatinya pada Ny. Lilies. Kala itu karena tekanan dari orang tua papa, kakekku yang bersahabat erat dengan orang tua mama, maka papa tidak bisa menolak. Akhirnya papa menikahi mama, ternyata Ny. Lilies tidak menikah. Ia masih menanti papa. Papa sudah berusaha memberinya pengertian tidak usah menunggu papa, karena papa sudah punya kami. Papa tidak akan meninggalkan kami. Ny. Lilies mengalah dan ia pergi jauh, bertahun-tahun lamanya mereka tidak berjumpa sampai akhirnya papa tahu kalau Ny. lilies sempat meu bunuh diri karena tidak mampu mengikis cintanya pada papa. Hal itu diketahuinya tidak lama sebalum ia menikahi Ny. Lilies. Hal ini pernah diceritakan pada mama, namun mama tidak terima. Mama tidak mau dimadu apapun alasannya. Maka papa mengorbankan kami dan perasaannya sendiri untuk menyelamatkan Ny. Lilies.

sebuah cerpen buah dari diare yang berkepanjangan diujung oktober, jatinangor cibeusi 27 oktober 2010

About rabiah65

dedicated n humble person..

One response »

  1. Beni Hidayat says:

    Aiisss banyak cerpen ini malaas aaah baconyo wkwkwkwkkwkw:P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s