Definisi

Konflik terjadi ketikaa okupan dari suatu posisi merasa bahwa ia berkonflik dengan harapan-harapan yang tidak sesuai. Sumber dari ketidakseimbangn  trsebut boleh jadi disebabkan  oleh adanya perubahan-perubahan dalam harapan yang terjadi dalam diri pelaku, orang lain, atau dalam lingkungan.

Konflik antar peran adalah konflik yang terjadi jika pola-pola perilaku atau norma-norma dari satu peran tidak kongruen dengan peran lain yang dimainkan secara bersamaan oleh individu.

Tipe Konflik Peran

1)  Konflik antar peran terjadi ketika peran yang kompleks dari seorang individu yaitu sekelompok peran yang ia mainkan, termasuk sejumlah peran yang tidak seimbang.  Tipe konflik ini disebabkan oleh ketidakseimbangan perilaku-perilaku yang berkaitan dengan berbagai peran atau besarnya tenaga berlebihan yang dibutuhkan oleh peran-peran ini, miisalnya dalam kasus keluarga dimana peran sebagai siswa, penjaga rumah, memasak, perkawinan, perawatan anak dilaksanakan sekaligus.

2)  Konflik peran antar pengirim, didalamnya terdapat dua orang atau lebih yang memegang harapan-harapan yang berkonflik, menyangkut pemeranan suatu peran. Ilustrasi tentang tipe konflik kedua ini adalah adanya harapan-harapan yang berkonflik menyangkut bagaimana peran seseorang, seperti seorang perawat professional harus ditunjukkan.

3)  Person – Role Conflict, tipe ini meliputi suatu konflik antara nilai-nilai ingternal individu dan nilai-nilai eksternal yang dikomunikasikan kepada perilaku oleh orang lain, dan melemparkan pelaku kedalam situasi yyang penuh dengan stress peran.

Dimensi-dimensi Normatif Peran

Peran-peran didefinisikan secara normatif atau kultur adalah budaya dimana seseorang berpartisipasi atau dimana individu mengidentifikasi ketentuan-ketentuan dan larangan-larangan perilaku okupan-okupan dari berbagai posisi. Akan tetapi tidak semua peran keluarga bersifat normatif secara merata.  Beberapa peran keluarga lebih terkristalisasi sebagai perilaku yang diharapkan daripada yang lain.

Kebersamaan Peran

Kebersamaan peran (Role Sharing menunjuk pada keikutsertaan atau partisipasi dari dua orang atau lebih dalam peran-peran yang sama meskipun mereka memegang peran yang sama. Struktur-struktur peran yang dipisahkan secara tajam merupakan hal tidak lazim dalam keluarga sekarang. Misalnya interaksi social yang dilakukan olah seorang anak harus mendapatkan partisipasi dari segenap anggota keluarga, guru dan lingkungan.

Pemeranan (Role Taking)

Agar anggota keluarga dapat memainkan peran-peran, mereka harus mampu membayangkan diri mereka dalam peran dari lawan peran, pasangan mereka, dengan cara ini anggota keluarga dapat mendelegasikan suatu peran kepada orang lain dan juga memahami lebih baik bagaimana mereka harus berperilaku dalam peran-peran mereka sendiri.

Peran Formal Keluarga

1. Posisi formal

a. Ayah/suami

b. Istri/ibu

c. Anak laki-laki/saudara laki-laki

d. Anak perempuan/saudara perempuan

2.  Posisi Normatif

a. Suami/ayah sebagai pencari nafkah

b. Istri/ibu sebagai pengurus rumah tangga

Dalam keluarga dengan orang tua tunggal ibu biasanya memainkan peran sebagai ibu dan ayah tanpa peran dari suami. Dalam keluarga dengan orang tiri suami biasanya akan memainkan peran suami/ayah, tapi karena anak-anak secara biologis bukan anaknya maka peran ayah merupakan sebuah peran pura-pura.

Peran Parental dan Perkawinan

Terdapat enam peran yang membentuk posisi social sebagai suami / ayah dan istri/ibu :

  • Peran sebagai provider (penyedia)
  • Peran sebagai pengaturrumah tangga
  • Peran perawatan anak
  • Peran sosialisasi anak
  • Peran rekreasi
  • Peran persaudaraan (memelihara hubungan keluarga paternal dan maternal)
  • Peran terpeutik (memenuhi kebutuhan afektif pasangan)
  • Peran seksual

Peran Perkawinan dan Tipe-Tipe perkawinan

Pentingnya hubungan yg harmonis pasangan suami istri merupakan suat kebutuhan yang tidak bisa dielakkan. Keberadaan anak-anak dapat mempengaruhi kondisi ini, dimana suami   dan istri dapat membangun suatu koalisi dengan salah sorang anaknya. Memelihara suatu hubungan perkawinan yang memuaskan merupakan salah satu tugas perkembangan yang vital dari keluarga , karena keluarga berkembang dalam siklus kehidupan keluarga.

Perubahan-perubahan Peran keluarga Kontemporer

Peran-peran anggota keluarga telah menjadi lebih bervariasi, fleksibel dan kompleks. Dimasa lalu, ada “pekerjaan wanita” dan “pekerjaan laki-laki” kebersamaa peran hanya sedikit saja kecuali dalam kondisi-kondisi khusus. Keluarga pada waktu itu hidup menurut aturan-aturan yang dibentuk secara kultur, relative kaku yang dipertahankan oleh tekanan-tekanan social dan moral dari seluruh masyarakat. Saat ini, banyak sekali variasi dalam peran kedua jenis kelamin nampaknya dapat dijalankan dengan mudah. Harapan dan praktik amat jauh berbeda. Dalam satu keluarga, anggota keluarga yang  dewasa diharapkan dapat bekerjasama dan sama-sama memikul semua urusan dan tanggungjawab keluarga; pada keluarga yang lain, peran-peran tradisional diharapkan dan dilaksanakan, namun dalam situasi yang lain keluarga dengan orang tua tunggal, orang dewasa menerima peran dari kedua orang tua ( sebagai ayah dan ibu).

Peran pria / ayah dalam Keluarga

Pada kondisi ayah dan ibu bekerja, peran tradisional ibu dalam keluarga berubah fungsi hal ini mengakibatkan timbulnya konflik peran dalam keluarga sampai terjadi perceraian. Perceraian menyebabkan timbulnya konflik baru terjadi perpisahan ayah dan anak karena anak lebih sering pada ibunya.

3 teori fungsi peran ayah menurut Kennedy dalam keluarga, yaitu sebagai pengamat moral, pencari nafkah dan peran seks. Sebagai pengamat moral seorang ayah dianggap sebagai icon kepemimpinan moral dalam keluarga. Sebagai pencari nafkah seorang ayah tidak terlibat dalam perawatan anak, anak-anak dirawat oleh ibunya. Sebagai peran seks seorang ayah berperan membentuk identitas anak laki-laki.

Peran Seksual Perkawinan

Diwaktu dulu seoarang pria memiliki untuk menentukan kegiatan seksual dengan istri mereka tetapi tidak merasa mempunyai kewajiban ikut prihatin terhadap perasaan puas istri. Tetapi sekarang hak wanita untuk mendapatkan kenikmatan hubungan seksual dan pemerataannya semakin penting, dan sifat peran seksual bagi kedua pasanganpun berubah (napier,1988)

Peran Ikatan keluarga (Kin Keeping)

Wanita merupakan penerus keturunan (memiliki peran dalam mengikat hubungan keluarga) termasuki memelihara komunikasi, mempermudah komunikasi, mempermudah kontak dan tukar menukar barang dan jasa serta memantau hubungan keluarga.

Peran Kakek/Nenek

Peran ini cukup menyenangkan namun belum diketahui pengaruh yang signifikan terhadap perilaku cucunya. Fungsi peran ini dipengaruhi oleh usia, etnis, kelas sosial dan gender. Dalam hal mengasuh cucu kakek dan nenekk banyak terlibat dalam pengasuhan cucu mereka pada saat kedua orang tuanya bercerai khususnya jika kakek dan nenek ini masih muda.

Masalah – Masalah Perubahan Peran

Status dan peran-peran terkait lain dari individu dalam sebuah keluarga akan mengalami perubahan-perubahan nmelalui berbagai cara yang langsung dalam siklus kehidupan keluarga dan dalam kedua keluarga ( keluarga orientasi dan keluarga parenthood). Perubahan dalam hubungan-hubungan peran, harapan-harapan peran, dan kemampuan menunjuk kepada transisi peran (Meleis, 1975). Transisi-transisi peran berlangsung pada damarkasi kehidupan keluarga, misalnya pada perkawinan, perceraian, kematian orang tua atau pasangan, dan juga agak lebih kabur sebagai suatu respon berkelanjutan terhadap pengalaman hidup. Suatu perubahan peran yang dialami oleh seorang anggota keluarga memaksa perubahan peran pelengkap pada anggota keluarga lain.

Harus diakui bahwa munculnya perubahan peran dalam keluarga tidak akan datang tanpa melibatkan pengalaman seseorang yang memilukan. Keluarga sering mengalami stress yang signifikan selama peran transisi. Ketika individu-individu menyimpang dari harapan-harapan peran normatf dan atau mengambil peran baru, boleh jadi mereka kurang memiliki persiapan untuk memerankan peran tersebut dan sosialisasi sebelumnya secara menyenangkan dan adekuat. Disamping itu, kurangnya latihan yang diperluakan, seseorang anggota keluarga tidak boleh berfikir bahwa peran-peran baru tersebut telah memenuhi keinginan-keinginannya atau kebutuhan-kebutuhannya. Perubahan peran yang diakibatkan kehadiran seorang bayi, pekerjaan istri, suami menganggur, perceraian, realokasi keluarga, dapat menciptakn peran yang membingungkan, cemas, dan ketidakbahagian dalam keluarga dan bias jadi mempertinggi konflik dalam keluarga menurut “Aldous (19740 ‘ dalam buku Fredman.

Perubahan peran diperluakn karena kehadiran bayi merupakn sebuah contoh. Menurut “Ventura (1987) dalam buku Freedman, menyatakan dalam sebuah studi kualitatif terhadap pasangan kelas menengah, ia menemukan bahwa 35% istri yang pertama kali menjadi seorang ibu dan 65% pria yang pertama kali menjadi ayah mengatakan bahwa mereka merasa stress karena tuntutan peran multiple. Data yang dikumpulkan pada tiga bulan setelah partus. Para ibu menjalankan peran parenting dengan jadwal pekerjaan dan pekerjaan dirumah dan hanya menyiksan waktu sangat sedikit bagi mereka. Para ayah menggambarkan stress tersebut dikaitkan dengan karier dan tanggung jawab.

 

Variabel-Variabel Yang Mempengaruhi Struktur Peran

1.      Perbedaan Kelas Sosial

a.       Keluarga kelas bawah

Fungsi kehidupan keluarga dalam hubungannya dengan peran-peran keluarga sudah pasti dipengaruhi oleh tuntutan dan kepentingan yang ada pada keluarga. Keluarga dengan orang tua tunggal merupakan jumlah terbesar dari bentuk tipe keluarga miskin. Tiga puluh persen dari semua keluarga dengan orang tua tunggal hidup dalam kepapaan. ( Getman et al, 1985)

1)      Peran Perkawinan

Stabilitas peran perkawinan dalam status kelas bawah jauh lebih genting daripada kelas social lainnya, dengan masalah perceraian dua kali lebih besar dari pada kelompok kelass menengah. Tingginya tingkat pengangguran pada kelompok masyarakat miskin merupakan suatu stressor utama dalam hubungan perkawinan. Dalam kebanyakan keluarga miskin terdapat suatu demokrasi menyolok menyangkut peran keluarga, atas dasar apa pekerjaan berada didalam atau diluar rumah. Garis kekuasan yang kokoh ini berfungsi untuk memperkuat jarak emosional pasangan.

2)      Peran-peran Parental

Karena secara khusus kebutuhan afektif dan social tidak dipenuhi oleh suami mereka, mereka membuat pelarian emosional lebih dekat kepada anak-anak sebagai kompensasi terhadap kerenggangan emosional. Disini munculah suatu kedekatan yang lebih antar ibu dan anak-anak. Focus peranan parenting dalam keluarga miskin adalah terletak pada pencapaian pemeliharan fungsi , menyediakan nafkah bagi anak, menjamin agar mereka agar mereka makan, istirahat yang cukup. Mandi, dan pergi kesekolah pada waktunnya dan terletak pada penegakan aturan dan disiplin di rumah.

3)      Peran kakak/ adik

Ketika anak telah beranjak dewasa peran seorang kakak atau adik (sibling role) mendapat arti yang penting sebagai suatu “pelaku yang bersosialisasi” ,berbeda dengan keluarga kelas menengah. Jika terjadi kegagalan berkomunikasi di antara orang tua dan anak-anak, subsistem peran kakak/adik cenderung mendorong adanya ekspresi posisi terhadap control parental.

b.      Keluarga Pekerja dan Keluarga Kelas Menengah

Menurut Komarovsky (19640 dalam, buku fredman , menyatakan semakain tinggi pendidikan suami maka semakin besar keakraban dan keharmonisan dalam perkawinan. Keluarga kelas pekerja cebderung memiliki peran keluarga yang lebih didasarkan pada tradisi dari nperan keluarga kelas menengah, suami lebih berkuasa dalam peran sebagai kepala keluarga. Perencanan dalam keluarga dilakukan secara bersama-sama pada kelas menengah karena status pendidikan mereka.

Keluarga kelas menengah umumnya mengasuh anak merupakan sebuah peran yang dipikul secara bersama-sama, berbeda dengan keluarga menengah. Kalangan kelas menengah lebih memperhatikan perkembangan  psikologis, perbedaan individu, kemandirian dan percaya diri anak mereka, sifat-sifat ini didorong untuk keberhasilan hidup dalam bekerja.

2.      Bentuk Bentuk Keluarga

a.       Peran dalam keluarga dengan orang tua tunggal

Peran orang tua tunggal semakin banyak, hal ini disebabkan perceraian, kelahiran diluar perceraian dan penyelewengan oleh pasangan. Kebanyakan keluarga dengan orang tua tunggal dikepalai oleh ibu. dua ciri peran yang menonjol dari keluarga ini adalah (1) peran yang berlebihan dan konflik-konflik peran dan (2) perubahan-perubahan peran dalam keluarga orang tua tunggal. Orang ini harus berperan double sebagai ibu dan ayah, selain itu tidak adanya dukungan dari status perkawinan, sehingga dibebani oleh konflik-konflik peran. Karena kebanyakan orang tua tunggal juga bekerja maka ditemukan adanya tekanan menyangkut peran keluaga maupun pekerjaan dan menurunnya tingkat keadaan sehat.

b.      Peran dalam keluarga dengan orang tua  tiri

Keluarg-keluarga dengan orang tua tiri beresiko memiliki masalah serius lebih tinggi dibandingkan dengan keluarga orang tua tunggal. Salah satu alasan utama.dari hall ini adalah semakin besarnya kompleksitas yang masuk dalam penyatuan seorang seorang ayah tiri ke dalam sebuah keluarga yang telah terbentuk, ditambah dengan kesetian campuran sebagai istri-ibu kepada suami baru di satu pihak dan anak-anak dipihak lain.

Ketika orang tua masuk ke daalm suaru hubungan dimana ayah tiri menjadi kepala keluarga yang diman ia bukan orang tau murni, maka akan terjadi perubahan nilai dan aturan yang akan menjadi persoalan.

3.      Latar Belakang Keluarga

Norma dan niali sangat mempengaruhi bagaimana peran dilaksanakan dalam sebuah keluarga tertentu. Dalam sejumlah budaya, peran formal keluarga dilaksanakan oleh anggota keluarga besar yang memegang posisi dari keluarga lain. Karena banyak sekali pasangan nikah yang secara kultur bersifat heterogen, sebuah masalah utama dalam tipe keluarga ini biasanya ketidak kongruennya peran, karena perbedaan latar belakang budaya pasangan dan karena harapan terhadap peran yang dimiliki berbeda.

4.      Tahap Siklus Kehidupan Keluarga

Cara yang digunakan oleh keluarga untuk melaksanakan peran berbeda-beda dari satu tahap siklus kehidupan keluarga ke tahap yang lain. Peran parental sebagai contoh yang sangat jelas. Menjadi orang tua dari seorang bayi harus mampu memberikan perawatan 24 jam, sementara menjadi orang tua bagi remaja yaitu orang tua tidak boleh mengekang melainkan memberikan dukungan karena remaja berbeda dengan bayi.

5.      Model-Model Peran

Hal yang memberiakan manfaat ketika seorang anggota keluarga menunjukan dan mengalami masalah peran. dan konflik adalah mengkaji model peran dari anggota keluarga. Hal ini bertujuan untuk menemukan kehidupan awal keluarga, saat seorang individu mempelajari peranannya dan bagaiman pengalaman awal terjadi. Sangatlah penting memperhatiakan aspek-aspek intergenarasional dari peran-peran parental dan perkawinan.

 

Asuhan Keperawatan Keluarga

Pengkajian

Pengkajian terhadap peran-peran keluarga semata-mata berfokus pada karakteristik struktur peran formal dan informal, ditambah lagi dengan suatu pertimbangan bagaimana faktor-faktor sosiokultural dan situasional mempelajari struktur peran keluarga. Terdapat empat bidang yang menjadi sasaran kajian struktur peran keluarga.

1. Struktur peran formal

2. Struktur peran informal dan jenis-jenis hubungan

3. Model-model peran

4. Variabel-variabel yang mempelajari struktur

Struktur Peran Formal

Setiap posisi peran-peran anggota keluargadan digambarkan dengan mengemukakan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :

1. Posisi-posisi dan peran-peran formal apa yang setiap anggota penuhi? Gambarkan bagaimana setiap anggota keluarga melaksanakan peran-peran formalnya.

2. Apakah peran-peran dapat diterima dan konsisten terhadap harapan-harapan anggota keluarga dan keluarga? Apakah ada konflik?

3. Bagaimana para anggota keluarga melaksanakan peran mereka masing-masing?

4. Apakah ada fleksibilitas dalam peran jika dibutuhkan?

Struktur Peran Informal

Pertanyaan-pertanyaan yang berkenaan dengan bidang ini adalah :

1. Peran-peran informal dan peran-peran tersamar apa yang terdapat dalam keluarga, siapa yang memerankan, dan bagaimana peran-eran tersebut dilaksanakan secara konsisten dan sering? Apakah anggota memainkan peran-peran tersebut secara samar-samar, berbeda dengan mereka yang memiliki posisi dalam keluarga menuntut yang mereka perankan?

2. Apakah maksud dan tujuan dari peran-peran yang tersamar atau informal?

3. Jika peran-peran informal dalam keluarga bersifat disfungsional, siapa pelaksana peran-peran ini dalam generasi sebelumnya?

4. Apa pengaruhnya terhadap individu yang memainkan peran-peran keluarga yang disfungsional ini?

Model-Model Peran

1. Siapa saja yang menjadi model yang mempengaruhi anggota keluarga dalam kehidupan awal mereka, siapa yang memberikan sikap/perasaan dan nilai-nilai misalnya tentang perkembangan, pengalaman-pengalaman baru dan tekhnik-tekhnik komunikasi?

2. Secara spesifik, siapa yang bertindak sebagai model peran (role model) bagi pasangan-pasangan dalam peran mereka sebagai orang tua, dan sebagai pasangan perkawinan, dan seperti apakah mereka itu? Dari informasi ini seorang anggota keluarga dapat dibantu untuk melihat bagaimana model-model yang lalu mempengaruhi harapan-harapan dan tingkah lakunya

3. Apa pengaruhnya terhadap individu yang memainkan peran-peran ini? (Hartman dan Laird, 1983).

Variabel-Variabel yang Mempengaruhi Struktur Peran

1. Pengaruh kelas sosial, bagaimana latar belakang kelas sosial mempengaruhi struktur peran informal dan formal dalam keluarga.

2. Pengaruh kebudayaan, bagaimana struktur peran dari keluarga dipengaruhi oleh latar belakang budaya dan religi keluarga?

3. Pengaruh perkembangan dan siklus kehidupan, apakah perilaku peran anggota keluarga secara perkembangan dianggap cocok?

4. Kejadian situasional, termasuk perubahan-perubahan sehat dan sakit

a. Bagaimana masalahmasalah kesehatan mempengaruhi peran-peran keluarga? Realokasi peran dan tugas apa yang telah terjadi?

b. Bagaimana anggota keluarga yang telah menerima peran-peran baru menyesuaikan diri? Apakah ada bukti bahwa stress peran dan/atau konflik-konflik peran disebabkan oleh peran-peran ini?

3. Bagaimana anggota keluarga yang mempunyai masalah kesehatan bereaksi terhadap suatu perubahan atau hilangnya suatu peran-peran?

 

Diagnosa Keperawatan Keluarga

Diagnosa Keperawatan Nanda Yang Berhubungan Dengan

Masalah-Masalah Peran/Transisi Peran

NO. Diagnosa Keperawatan NANDA Masalah-Masalah Peran
1. Berduka yang diantisipasi Yang berhubungan dengan kehilangan peran
2. Berduka disfungsional Yang berhubungan dengan ketegangan peran
3. Isolasi social Yang berhubungan dengan perubahan peran
4. Perubahan dalam proses keluarga Yang berhubungan dengan konflik peran
5. Potensial perubahan dalam parenting Yang berhubungan dengan kelebihan beban peran
6. Perubahan dalam parenting Yang berhubungan dengan perubahan peran
7. Perubahan kinerja peran Yang berhubungan dengan kehilangan dan ketegangan peran
8. Kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan rumah Yang berhubungan dengan kegagalan peran atau kesengajaan peran
9. Gangguan citra tubuh Yang berhubungan dengan kehilangan peran
10. Diagnosa koping keluarga Yang berhubungan dengan insufisiensi peran dan abiguitas peran

 

Intervensi Keperawatan Keluarga

Johnson (1986) meringkas intervensi-intervensi keperawat umum yang cocok untuk transasi peran dan masalah-masalah peran. Ia maksudkan intervensi-intervensi sebagai “strategi-strategi teori peran”. Strategi-strategi teori peran dari Johnson ini meliputi :

1. Membantu anggota keluarga mengidentifikasi isyarat-isyarat dari anggota keluarga yang lain (misalnya mengajarkan orang tua bagaimana membedakan tangisan karena lapar dan tangisan minta perhatian dari bayi baru lahir).

2. Menjelaskan harapan-harapan dari peran-peran yang dibutuhkan (anggota keluarga mengidentifikasi harapan-harapan mereka terhadap peran-peran baru).

3. Memperkuat kemampuan anggota keluarga untk memerankan sebuah peran baru.

4. Memberikan penghargaan untuk perilaku peran baru

5. Membantu anggota keliuarga memodifikasi peran baru dengan membantunya melihat bagaimana peran tersebut selaras dengan kompleks perannya.

6. Memberikan penguatan terhadap umpan balik dari “orang-orang lain yang relevan”

Intervensi-Intervensi Tekanan Peran

Beberapa cara untuk menghadapi ketegangan peran telah dikemukakan. Perawat keluarga dapat mengeksplorasi pilihan-pilihan berikut ini bersama anggota keluarga yang mengalami ketegangan peran :

1. Mendefinisikan kembali peran yang berkaitan dengan perilaku apa yang dianggap sebagai penampilan peran yang adekuat.

2. Menguji kompleks peran seorang individu (berbagai peran yang dimainkan oleh seorang okupan peran) dan prioritas setting di dalam sebuah peran atau dalam berbagai peran.

3. Tawar menawar peran atau negosiasi peran dengan pasangan peran sebagai okupan peran mencapai sejumlah posisi tertentu yang secara kolektif relative adil dan menguntungkan. Negosiasi peran termasuk mempengaruhi anggota peran keluarga tertentu sehingga mereka setuju dengan perubahan-perubahan dalam peran alokasi sumber-sumber.

4.Berkurang interaksi dengan pasangan peran. Jika partner peran memiliki interdependensi yang tinggi satu sama lain, maka cara ini biasanya menimbulkan kegagalan dalam tawar-menawar peran dan role distance. Penarikan diri secara partial dari interaksi tidak dapat menyembuhkan stres peran (Hardy, 1998).

Intervensi untuk Konflik Peran

Intervensi-intervensi konflik peran meliputi konflik intraperan dan antarperan. Garis-garis pedoman untuk masalah ini adalah :

1. Setelah mulai mengintervensi, rencanakan strategi-strategi untuk mengurangi atau memecahkan konlik peran. Untuk melakukan ini, tentukan sumber-sumber stress dan jenis konflik peran.

2. Berikan dorongan untuk mengungkapkan perasaan frustasi terhadap konflik peran.

3. Memberikan dorongan kepada anggota keluarga untuk mendiskusikan perasaan mereka tentang peran-peran yang masih dalam pertanyaan.

4. Memberikan dorongan kepada anggota keluarga untuk mendiskusikan perasaan dan persepsi mereka secara bersama-sama dan pemecahan masalah atas nama mereka sendiri.

5. Membantu keluarga menyusun prioritas-prioritas.

6. Ketimpangan peran-peran membutuhkan anggota keluarga bertemu. Perawat yang bertindak sebagai fasilitator, memberikan dorongan kepada anggota keluarga untuk mengeksplorasi ketimpangan-ketimpangan peran dan mengajukan suatu alokasi peran yang berbeda atau mungkin pula harapan-harapan peran yang berbeda.

Refesrensi :

Keperawatan Keluarga ; Friendman

 

About rabiah65

dedicated n humble person..

2 responses »

  1. ass…untuk ken keeping hanya terjadi pd wanita? bagaimana struktur peran dlm wisma Al-Azhar cek….hatur nuhn

    • Desi Andrianovita says:

      wahh ibu jam segini dah melek, sy punya saingan ternyata, kin keepin yg dimaksud diatas secara biologis peran wanita meneruskan garis keturunan sekaligus mempererat komunikasi dalam keluarga (karena konteksnya dalam keluarga). kalo struktur peran di al azhar alhamdulillah baik2 saja bu,swementara jadi yg paling tua, anak2 banyak disini dan alhamdulillah juga anakku 1 kemaren baru pulang kesini, mpe magrib juga masih kedengran suaranya menggema.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s