ungkapan terimakasih tak berujung… untuk ibu… ibu… dan ibu… selama 2 pekan kemarin kembali disuapi ibu,terbaring, dilayani (tidak nyuci, tidak nyapu, tidak ngepel, tidak cuci piring, disiapin air hangat untuk mandi… tak beraktivitas…) bahkan 2 hari full ditungguin ujian komprehensif.

terimakasih atas pengorbanan yang luar biasa, maaf jika anakmu ini terlalu banyak salah.

mungkinkah diri ini sanggup persembahkan surgaNya?

Berikut adalah sebuah artikel menarik tentang rasa sepi seorang ibu, yang dimuat di majalah Tarbawi edisi 219, 14 Januari 2010

 

Mari Bicara Sejenak tentang Rasa Sepi Seorang Ibu

Sepi adalah jenak waktu yang tentu saja tak memberi rasa nyaman. Apalagi kita tak bisa tahu kapan ia akan berakhir. Dan seorang ibu adalah sosok yang mungkin sangat sering mengalami itu dalam hidupnya, meski mungkin kita sebagai anaknya kadang tak menyadari.

Harus kita akui, bahwa kita memang seringkali lupa akan keberadaan ibu dan ayah yang ada di rumah. Jika dibandingkan dengan pasangan, perhatian kita kepadanya lebih banyak dan lebih intens. Buktinya, kita selalu risau akan kabar pasangan kita, khawatir apakah dia sudah makan atau belum, takut apakah dia bahagia bila di samping kita?

Tapi, apakah kita juga pernah merisaukan kabar dari orang tua kita? Risau, apakah orang tua kita sudah makan atau belum? Khawatir, apakah orang tua kita sudah bahagia atau belum? Rasanya jarang. Padahal boleh jadi dia sedang dalam dekapan rasa sepi.

Di sini, mari sejenak kita coba renungkan lagi. Bicara soal keadaan orang tua. Soal rasa sepi yang seringkali menerpa hidupnya. Saat kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi mereka, melakukan yang terbaik untuknya. Untuk ibu yang pengorbanannya tak terhingga. Agar jangan sampai ada kata “menyesal” di kemudian hari.

 

Rasa Sepi Ketika Sendiri Membesarkan Anak-anaknya

Cinta seorang ibu kepada anaknya adalah cinta yang tak terbatas. Meskipun terkadang cinta itu tak berbalas. Atas nama cinta, apa pun akan dia jalani asal kebutuhan anaknya terpenuhi. Apapun akan diusahakan, asal keinginan anaknya terwujud. Apapun akan dia lakukan asal anaknya bisa sukses dan berhasil. Itulah energi cinta dari seorang ibu.

Energi itu begitu kuat. Tak jarang, seorang ibu kemudian harus melakukan semua itu sendiri. Tanpa kehadiran suami yang menemani, karena dipisahkan oleh ajal misalnya, atau oleh sebab yang lain. Berat itu pasti. Tapi cintanya yang sangat besar akan mengalahkan semua kesulitan dan rintangan. Tekadnya yang demikian besar terbangun, sehingga lahirlah anak-anak yang sukses dalam hidup dan kariernya, berkat sentuhan cinta dan pengorbanannya, meski semua dilakukannya berselimut derita dan rasa sepi.

Ibu kita mungkin menjadi salah satu perempuan yang merasakan kesepian itu dalam mendidik anak-anakanya. Kita, dan beberapa orang saudara kita barangkali hari ini semua telah menjadi orang-orang berhasil, punya pendidikan yang tinggi, menduduki sebuah jabatan penting, atau mengelola sebuah bisnis besar.

Mari kita kenang sejenak rasa sepi ibu waktu itu, di mana terkadang dia harus menutupinya dengan sebuah ‘kebohongan’ untuk mengalihkan perhatian kita, agar ia tidak tampak lelah mengurus dan membesarkan kita.

Seorang anak yang telah dewasa menuliskan kisah masa kecilnya kala bersama ibunya, yang tak pernah kenal lelah bekerja untuk dirinya dan adik-adiknya. Saat itu mereka hidup dalam keadaan amat sederhana. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika sedang makan, ibunya seringkali memberikan bagian nasinya untuknya. Sambil memindahkan nasi ke piring anaknya, si ibu berkata, “makanlah nak, aku tidak lapar”. Dia baru tersadar bahwa saat itu ibunya’berbohong’.

“Ketika saya mulai menginjak remaja, ibu yang sangat menyayangi anak-anaknya selalu gigih dalam membantu ayah mencari nafkah. Berusaha apa saja ia lakoni demi mendapatkan sejumlah uang. Namun pernah satu kali ia tak mendapatkan bayaran atas usahanya, ia hanya mendapatkan upah dengan beberapa ekor ikan segar yang dimasaknya menjadi sebuah hidangan yang menggugah selera.

Sewaktu memakan makanan itu, ibu duduk di samping kami dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang bekas sisa makanan kami. Melihat itu tentu saja aku tak tega dan menyodorkan ikan bagianku kepadanya. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya. “Makanlah nak, ibu tidak begitu suka dengan daging ikan”, tuturnya. Dan aku kembali menyadari bahwa ibu telah kembali ‘berbohong’. Saat aku duduk di bangku SMA, demi membiayai uang sekolah itu, ibu rela mengerjakan sulaman barang-barang kerajinan yang didapatnya dari tetangga sebelah rumah. Sedikit demi sedikit ia selesaikan pekerjaan itu.

Saat itu aku terenyuh menyaksikan kegigihan ibu, karena hingga jam menunjukkan pukul satu malam ibu belum juga berhenti. Saat aku memintanya untk istirahat dan tidur, ia malah menyuruhku untuk tidur terlebih dahulu, sementara ia beralasan belum mengantuk.

Hari-hari terus berjalan, hingga pada waktu yang telah digariskan, ayah meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Setelah kepergian ayah, ibu yang malang harus merangkap menjadi ayah, membiayai keperluan hidup kami sendiri dan tiada hari tanpa penderitaan. Hingga banyak keluarga ibu yang menasehati ibu untuk kembali menikah, tetapi ibu menolaknya dengan mengatakan bahwa ia tak butuh cinta, dan aku tahu saat itu ibu ‘berbohong’.”

Perjuangan membesarkan anak adalah hari-hari yang penuh rasa sepi, dengan kesulitan yang terkadang belum bias kita cerna saat itu, atau mungkin hingga hari ini. Namun kita tak pernah mencoba untuk mengingatnya, untuk sekadar mengenang jasa manusia agung itu, yang telah memberikan segalanya untuk kita.

Rasa Sepi Ketika Ditinggal Anak-anaknya Merantau

Setiap anak pada akhirnya akan menentukan pilihan hidupnya masing-masing. Dan karena itu, terkadang kita terpaksa meninggalkan kedua orang tua untuk mencoba melepaskan diri dari ketergantungan kepada mereka. Ketika beranjak remaja atau dewasa, kita pergi merantau kemana saja untuk tujuan apapun; menuntut ilmu, mencari rezeki, mengadu nasib, dan sebagainya.

Berawal dari sini, rasa sepi pun muncul di relung hati seorang ibu. Anak yang sedari kecil diasuh penuh cinta, ditimang-timang dan dibesarkan, pergi jauh dari sisinya. Tak sanggup ia melarang, karena hidup memang harus berubah dan berkembang. Ia lalu merelakan anaknya pergi merantau.

Mungkin kita adalah salah seorang anak yang telah membuat ibu merasa sepi, karena meninggalkannya untuk sementara demi mengejar cita-cita di negeri rantau. Hari ini, entah di manapun kita berada, mari sejenak bicara tentang rasa sepi ibu yang terus menyimpan cinta dan kasihnya pada kita sampai kapan pun. Mari sejenak kita merenungkan keadaannya, di kala kita sedang jauh dari sisinya. Apakah yang sedang dia lakukan? Mungkinkah saat ini, ia sedang duduk menghabiskan waktu sambil memandangi kali di depan rumah, yang dahulu selalu menjadi tempat bagi anak-anaknya menghabiskan waktu, berenang dan bermain hujan. Mereka saling dorong menceburkan did ke dalam air? Atau entah apa lagi yang ibu lakukan untuk mengusir kesendirian dan rasa sepinya yang tak kunjung berakhir.

Ibu memang selalu merindukan kita. Sangat merindukan kita sampai kapan pun. Gambar wajah kita selalu hadir di benaknya, bermain-main di pelupuk matanya. Dia selalu melempar ingatannya ke masa-masa lalu yang indah ketika kita masih bersamanya, mengenang segala tingkah lucu kita yang menggores kesan indah di hatinya.

Suatu sore di sebuah toko perbelanjaan, seorang lelaki muda yang sedang belanja bertemu dengan seorang perempuan tua yang terus memandangnya dengan mata tak berkedip. Lelaki itu merasakan keanehan dari tatapannya. Dia terus berjalan sembari mencari-cari barang yang hendak dibelinya, tapi tatapan si perempuan tua seperti terus mengikutinya.

Setelah mendapatkan barang belanjaannya, lelaki tersebut berjalan menuju kasir untuk membayarnya. Akan tetapi tiba-tiba perepuan tua tadi memotong langkahnya dan berdiri di depannya. “Maafkan nak,” kata perempuan itu. “Ibu minta maaf atas tatapan ibu tadi. Ibu tidak bermaksud apa-apa, hanya saja wajak anak ini mirip sekali dengan wajah anak saya yang suda lama pergi dan belum pulang sampai sekarang.”

Mendengarkan cerita si perempuan tua, ia pun mengerti kenapa tatapannya begitu tajam kepadanya. Rasa kasihan pun muncul di hatinya. “Kalau begitu, apa yang bisa saya bantu?” tanya anak muda itu, menawarkan bantuan kepada si ibu.

Setelah sejenak terdiam, si ibu menjawab, “Ada satu permintaan saya, kalau anak memang tidak keberatan.”

“Apa itu, Bu?” tanya si anak muda.

“Nanti kalau anak sudah mau keluar, tolong lambaikan tangan dan ucapkan ‘dadah’ buat ibu. Karena itulah yang selalu dilakukan anak ibu ketika akan pergi meninggalkan ibu. Mudah-mudahan dengan itu rasa rindu ibu kepada anak ibu bisa terobati.”

Selesai membayar barang belanjaannya, lelaki itupun melakukannya sembari melangkah pergi, membawa serta sebagian rasa sedih yang ada di hati si ibu.

Sederhana sekali permintaan si ibu. Tapi dengan itu, barangkali ada sejenak rasa sepi yang hilang dari hidupnya. Ibu kita mungkin saja menyimpan kerinduan seperti yang dirasakan perempuan tua itu terhadap kita. Tapi sayangnya, kita tak pernah menyadari dan membiarkan waktu terus berlalu tanpa mencoba mencari tahu. Karena itu, mari sejenak kita bicara di sini, tentang kesendirian ibu. Tentu agar kita teringat dan tersadar, serta kemudian mau sesekali mengobati rasa sepinya dengan rela meninggalkan kesibukan untuk sesaat pulang menemuinya, mencium tangannya.

 

Rasa Sepi Ketika Anak-anaknya Telah Sukses dan Mandiri

Merantau mungkin awalnya hanya untuk menimba ilmu dan pengalaman. Tapi seringkali di negeri orang, kita akhirnya menemukan kehidupan baru yang membuat kita harus bertahan. Di sana kita temukan pekerjaan atau jabatan yang menjadikan kita tidak lagi bergantung kepada orang tua secara ekonomi. Atau mungkin kita telah menemukan pasangan hidup dan lalu membina keluarga sendiri, sehingga tidak lagi merasa perlu untuk kembali dan hidup bersama orang tua di kampung halaman.

Keberhasilan dan kesuksesan tentu selalu memberi perubahan, seperti perubahan pada keadaan kita yang sudah mampu hidup mandiri. Namun ibu yang mengantarkan kita kepada keberhasilan itu tetap dalam keadaannya yang dulu. Tak ada perubahan, kecuali fisiknya yang kian lemah dan kulitnya yang semakin keriput. Sepi yang dulu ia rasakan, kini pun tak jauh beda. Bahkan mungkin rasa sepi itu semakin bertambah, karena kita semakin jarang mengunjunginya.

Kalaupun kita punya niat baik untuk merawatnya dangan tinggal bersama kita, terkadang dia lebih memilih untuk tetap tinggal di rumahnya sendiri, tempatnya merajut kenangan, meski terus berbalut dengan rasa sepi. Seorang akan yang merasa prihatin melihat kondisi ibunya hidup sendiri, lalu mengajak ibunya untuk tinggal beramanya. Namun si ibu menjawab, “Ibu tak akan tinggalkan rumah ini, meski rumah ini makin terlihat semakin rapuh dari hari ke hari, apalagi menjualnya. Bagi ibu, rumah ini kenangan sekaligus keringat dari almarhum bapakmu.”

Terkadang itu memang pilihannya. Meskipun di rumah hanya berteman dengan sepi, tapi ia menikmati kesepian itu. Roesmiati (84) misalnya, enam orang anaknya hidup berkecukupan dengan prestasi dan profesi yang membanggakan. Anaknya yang pertama adalah seorang dokter dan dosen di sebuah perguruan tinggi terkenal. Anak keduanya adalah seorang pimpinan tertinggi di sebuah lembaga tinggi negara. Yang ketiga, berprofesi sebagai psikolog. Yang keempat adalah mantan komandan Pusat Militer TNI-AD yang kini menjabat asisten pengamanan kepala staf Angkatan Darat. Anak kelimanya menjabat sebagai Dirjen Potensi Pertahanan dan Keamanan di Departemen Pertahanan dan pernah menjadi dekan Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Dan yang paling bungsu adalah insinyur teknik mesin yang sekarang menjadi pengusaha.

Ibu Roesmiati tentu saja bangga dengan keberhasilan anak-anaknya. Namun setelah ditinggal oleh suaminya yang wafat sepuluh tahun lalu, ia tak hendak pergi dari rumahnya. Dan ia tetap bertahan meski tanpa ditemani oleh anak dan cucu-cucunya. Sehari-hari Roesmiati hanya ditemani Yati, pembantunya, dan seorang lagi pembantu laki-laki yang ikut menjaga keamanan rumahnya.

Perempuan yang lebih sering disapa Bu Pandji itu, mungkin saja tak merasakan sepi, karena anak-anaknya selalu mampir menjenguknya kala ada tugas di Magelang, tempat tinggalnya. Namun hidup di usia senja seperti Bu Pandji, tanpa kehadiran anak di sisi pastilah ada rasa sepi. Karena wujud seorang anak di sisi, yang dilahirkan dari rahim sendiri, dibesarkan dengan cucuran keringat dan tetesan darah, tentu saja sangat berbeda dengan orang lain. Kerinduan pada sentuhan kasih dan belaian anak adalah obat yang memberi kesegaran dan ketenangan jiwa di tengah deraan dahaga sepi.

Di sebuah rumah sakit, ketika seorang wanita muda hendak memasuki pintu lift tiba-tiba seorang ibu tua berkerudung menegurnya dari belakang, “Dik, Ibu ikut sampai lantai tiga ya!” wanita itu pun mengangguk sembari memperhatikan sosok ibu tua tadi. Jalan tertatih menggunakan tongkat, usianya mungkin sekitar 70-an. “Kemana anak-anaknya?” pikir si wanita muda dalam hati.

Di ruang tunggu pemeriksaan, ketika keduanya sedang duduk menanti giliran diperiksa, tanpa ditanya si ibu tua itu bercerita, “Tadinya, anak saya yang bungsu janji mau anterin Ibu, tapi ditunggu nggak datang. Yah… Ibu naik bajaj aja ke sini… pokoknya Bismillah aja lah…”

“semua anak-anak ibu sudah jadi sarjana,” lanjutnya. “semuanya sudah bekerja dan berkeluarga, tapi mereka jarang datang ke rumah, paling-paling telepon, tanya kabar Ibu. Ibu bosan ditanya begitu terus.” Matanya mulai berair, bibirnya yang sudah keriput itu bergetar seakan hendak menumpahkan rasa sedihnya. Sementara si wanita muda menoleh ke tempat lain takut terbawa perasaan yang sama.

“Bukan bawaannya (oleh-olehnya) yang Ibu perlu, tapi datang menengok orang tua. Itu aja yang bikin hati ini senang…” tuturnya menahan tangis.

Itulah sebenarnya perasaan asli seorang ibu. Karena itu, mari sejenak kita bicara di sini, tentang rasa sepi yang mungkin saja tengah melanda ibu kita di sana, di rumah yang sejak dulu ia tinggali bersama ayah membesarkan kita.

Rasa Sepi Ketika Anak Mengalami Kekeringan Spiritual

Sukses seorang anak tentu memberi rasa bangga dan puas di hati seorang ibu. Kelelahan selama bertahun-tahun yang dia alami, akan berakhir tanpa bekas manakala dia melihat anak-anak yang dibesarkannya dengan penuh cinta, hidup dalam kemudahan dan keadaan yang lebih baik dari kehidupannya sendiri.

Tetapi tentu bukan hal itu yang paling membahagiakan hati seorang ibu. Selain kesuksesan, seorang ibu sangatlah ingin melihat anak-anaknya tumbuh menjadi orang-orang saleh, berbakti dan berakhlak mulia, hidup rukun satu sama lain. Tak ada yang paling menyenangkan hatinya dan menenteramkan jiwanya selain melihat mereka tumbuh dalam ketaatan kepada Allah swt. Terlebih ketika mereka telah berada di usia yang semakin senja, selalu ada harapan agar anaknya kelak tetap mengenangnya setelah kepergiannya, dalam doa dan munajatnya, memohonkan ampun untuknya.

Rasa sepi yang paling dahsyat akan dirasakan seorang ibu ketika ia tak menemukan kesalehan pada diri anak-anaknya. Saat beribadah tak ada yang menemani. Ketika berdoa tak ada yang mengamini. Di kala sakit tak ada yang mendoakan. Akhir hidupnya dihantui rasa takut akan kegagalan menuai pahala dari anak-anaknya.

Seorang ibu, dengan kerja keras dan doa berhasil mengantar seorang anak perempuannya menyelesaikan pendidikan di sebuah perguruan tinggi di Amerika Serikat. Rasa bangga tentu memenuhi relung hatinya, apalagi si anak juga terlihar cerdas dan pandai. Namun, ketika tahu bahwa anaknya ternyata sangat jauh dari perintah-perintah agama, seketika kebanggaan itu hilang, berganti kekhawatiran yang sangat, yang membuat fisiknya tiba-tiba rapuh.

Si anak ternyata miskin spiritual. Bahkan membaca Al-Quran pun tak mampu. Ibu yang kesepian ini tak mau berputus asa. Dia panggil seorang ustadz untuk mengajari dan membimbing anaknya. Tapi usaha itu pun akhirnya harus gagal, karena si anak terus berhasil membuat sang guru bertingkah aneh.

Di akhir hayat sang ibu, si anak memang selalu hadir di sampingnya. Namun tidak untuk mendoakannya, atau untuk melantunkan ayat-ayat Al-Quran, atau membimbingnya melafazkan kalimat tauhid, melainkan sibuk melahap buku-buku novel yang dibawanya. Si ibu akhirnya menutup kisah hidupnya dengan rasa sepi, ditinggal oleh anaknya yang tak tahu cara mendekatkan dirinya dengan ibunya melalui nilai-nilai spiritual.

Mari sejenak kita merenung di sini, apakah perempuan yang telah melahirkan kita itu, juga hidup dalam rasa sepi karena orientasi hidup yang berbeda? Jangan merasa puas dengan hanya melihat senyumnya ketika kita menghadiahinya sebuah barang mahal, sebab bisa jadi ia merindukan sesuatu yang lebih sederhana tapi lebih berharga dari hadiah mahal yang kita berikan

Rasa Sepi Ketika Anak tak Memahami Bahasa Hati Seorang Ibu

Karena kita dan orang tua ditakdirkan lahir di generasi yang berbeda, menghuni zaman yang tak serupa, mengalami perubahan-perubahan budaya yang tak sama, terkadang memunculkan perbedaan-perbedaan yang membuat komunikasi orang tua dengan anak tak sepaham, kehendak yang tak seiring, dan pikiran yang tak sejalan.

Kondisi seperti ini seringkali mewariskan rasa sepi di kehidupan orang tua. Bukan karena mereka ditinggalkan, tapi karena ada keinginan yang tak dapat dipahami oleh anaknya. Ibu kita yang umumnya lebih banyak menghabiskan hari-harinya di rumah, memang kadang gagal menangkap dan memahami perubahan yang terjadi pada pribadi dan lingkungan anaknya, perubahan yang tidak disertai kedewasaan dan kemampuan menghormati sebagaimana seharusnya. Perasaan seorang ibu tidak mampu diterjemahkan oleh anak yang dibesarkan dalam budaya yang tidak mengutamakan tatakrama dan sensitifitas.

Suatu hari, seorang mahasiswi hendak berangkat ke luar negeri untuk meneruskan pendidikannya. Kedua orang tuanya, karena merasa akan berpisah dengan anak yang dicintainya dalam jarak yang jauh dan dalam waktu lama, tentu ingin meluapkan perhatian dan kasih sayangnya dengan mengantar si anak ke bandara. Orang tua manapun, terutama ibu, memang selalu ingin menyertai anaknya pada saat-saat penting seperti itu, entah untuk sekadar memberi nasehat, mendoakan, atau melepas rasa haru pada darah dagingnya.

Tapi si anak yang merasa sudah besar dan dewasa, tanpa rasa bersalah menolak niat baik orang tuanya. Dia justru menganggap keinginan baik mereka, seperti perlakuan orang dewasa kepada anak kecil yang harus selalu ditemani kemana pun akan pergi. Sia ank kemudian meminta orang tuanya tetap di rumah dan membiarkannya berangkat sendiri.

Mungkin saja si anak itu punya maksud baik untuk tidak merepotkan orang tuanya, namun ia gagal memahami perasaan hati seorang ibu. Ia tidak mengerti gemuruh hati orang yang begitu berat melepas anaknya untuk pergi jauh. Sehingga yang terjadi kemudian, sang ibu merasakan sepi yang sangat di hatinya. Anak yang dibesarkannya dengan penuh cinta dan pengorbanan, ketika dewasa serasa begitu jauh dan tak tersentuh. Dan tinggallah ia dengan kondisi kesehatan fisik yang terus menurun, karena selalu memikirkan anak yang tak pernah bisa mengerti keinginannya.

Sejenak, mari kita bicara tentang keadaan ibu. Merenungkan rasa sepi yang ia derita karena kita seringkali tidak memahami keinginannya. Jangan biarkan hari-harinya yang tersisia hanya diisi dengan lamunan. Jangan persingkat usianya dengan membiarkannya memendam rasa rindu tang tak kunjung terobati. Sekali lagi, mari kita bicara tentang keadaan ini, agar suatu saat nanti kita tak menyesali sikap acuh kita, ketika rasa sepi telah merenggut segalanya. (Sulthan Hadi)

 

… Long Live Learning …

“Barang siapa yang beramal akhirat dengan tujuan dunia, maka dia tidak mendapatkan bagian di akhirat.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, Al hakim dan Al Baihaqi. Al Hakim berkata: sanadnya shahih, dan disepakati Adz Dzahabi. Al Haitsami mengatakan hadits ini diriwayatkan Ahmad dan anaknya dari beberapa jalur, dan para perawi Ahmad adalah perawi shahih, Majma’ uz Zawaid 10/220)

Diperlukan suatu hentakkan yakin yang akan melahirkan keberanian, keteguhan, dan kesabaran, bertolak dari jaminan yang tak pernah lapuk (ust. Rahmat Abdullah)

Seonggok kemanusiaan terkapar. Siapa yang mengaku bertanggungjawab?… (Ustadz Rahmat Abdullah,’Sebuah Kesaksian’, Asasiyat, Tarbawi, 74)

Hidup ini terus berjalan, maka muliakan orang tuamu dengannya. Terlebih ibu yang telah mengandung dan menyusuimu (Abu A’la Al Ma’rriy)

About rabiah65

dedicated n humble person..

2 responses »

  1. bu des kmana ja ni…makin eksis aj ni!!!

    • desi77 says:

      waduh.. senengnya dikunjungi kang fikri.. alhamdulillah baik, sementara blum bisa konsen mu nulis apa fik, soalnya kesibukan membelenggu sukma, fikiran dan body,… hehehe, inshaAllah kedepan lebih baik, smangat yaa..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s